Gaya belajar
Home » Entertainment » Inspiratif » 7 Gaya Belajar Tingkatkan Prestasi Anak

7 Gaya Belajar Tingkatkan Prestasi Anak

Gaya belajar anak berbeda satu dengan lainnya, ada yang tertarik dengan melihat gambar, ada yang lebih suka belajar dengan mendengarkan musik, ada yang suka jika melibatkan indra perasanya, bahkan ada yang bersemangat dengan melakukan dengan olah fisik. Tidak ada yang salah dengan perbedaan gaya belajar. Setiap gaya belajar memiliki kelebihan dan kekurangan. Apapun pilihan gaya belajarnya, membantu anak agar bisa menikmati dalam proses pembelajaran termasuk salah satu tugas orang tua. 

Keinginan anak tumbuh cerdas dan berprestasi adalah impian setiap orang tua. Dalam proses belajar, tentu saja orang tua perlu mendampingi dan mengarahkan anak agar tidak pernah merasa bosan untuk belajar. Maka dari itu, perlu disadari terlebih dahulu bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menyerap informasi. Itulah sebabnya, orang tua tidak bisa memaksa cara belajar untuk anak. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang belum memahami gaya belajar yang cocok untuk anak.

Agar proses belajar anak lebih menyenangkan, alangkah baiknya sebagai orang tua mengetahui gaya yang cocok diterapkan untuk anak. Apa saja macamnya? Berikut Penjelasannya.

gaya belajar visual

Visual (Spatial)

Pertama adalah Visual atau Spatial. Pada umumnya, Anak dengan gaya belajar ini lebih mudah menyerap informasi dari yang ditangkap oleh mata. Tipe visual ditandai dengan kecenderungan belajar menggunakan gambar, warna maupun grafik. Anak yang memiliki gaya belajar visual lebih mudah mengingat dengan bentuk ataupun gambar seperti diagram atau mind mapping.

Jika anak merasa nyaman dengan gaya belajar seperti ini, artinya sebagai orang tua perlu menambah gambar-gambar agar anak lebih menikmati proses belajar, yang paling mudah adalah menggunakan mind-mapping dan grafik dan juga disertai warna warna untuk mendukung proses pembelajaran. Selain itu, orang dengan gaya belajar visual, ketika belajar bahasa non-alphabetic seperti Mandarin, Jepang atau Korea sangat diuntungkan karena mereka memiliki ketertarikan dengan bentuk yang bermacam-macam.

gaya belajar auditori

Aural (Auditory)

Anak dengan gaya belajar auditory bisa menyerap dan merekam sebuah infomasi dengan cepat hanya dengan mendengarkan. Maka anak dengan tipe ini lebih senang untuk duduk tenang mendengarkan materi. Pada umumnya gaya belajar auditory lebih mudah belajar sambil mendengarkan musik. Karena tempo musik bisa meningkatkan konsentrasi belajar. Tidak hanya itu, tempo musik juga mempengaruhi semangat dalam belajar. Ciri yang mudah ditemui pada anak tipe seperti ini adalah memiliki ketertarikan dalam bidang seni musik.

Jika anak termasuk dalam tipe Aural, sebagai orang tua cara yang paling mudah adalah cukup dengan bercerita atau menyetel audio book. Sebagai orang tua Anda tidak perlu kaget apabila anak tidak tertarik membaca buku, karena mereka lebih suka jika dibacakan. Kemampuan verbal orang tua sangat diperlukan dalam proses pembelajaran anak dengan tipe Aural.

gaya belajar verbal

Verbal (Linguistic)

Anak dengan kemampuan gaya belajar verbal lebih sering menggunakan kata-kata seperti ucapan atau tulisan dalam memahami pelajaran. Anak dengan tipe Verbal cenderung lebih suka bermain dengan kata seperti puisi atau pantun. Anak dengan kemampuan Verbal lebih sering aktif berkomunikasi.

Cara yang tepat untuk membantu proses pembelajaran anak tipe verbal adalah bermain permainan kata-kata seperti scrabble, pantun, atau akronim . Karena dengan merangkai kata-kata bisa membantu anak untuk metrangsang stimulasi perkembangan otak. Anak dengan tipe Verbal akan lebih suka berkomunikasi terus-menerus, maka disini lah peran orang tua untuk membantu mengarahkan dalam proses belajar sang anak.

Gaya belajar kinestetik

Fisikal (Kinestetik)

Apakah anak anda aktif bergerak kesana kemari? Tidak perlu bingung, bisa jadi anak anda termasuk tipe Fisikal. Anak dengan gaya belajar Fisikal lebih mudah menyerap dan mengolah informasi melalui dengan kontak fisik. Seperti menyentuh objek, alat peraga hingga aktivitas fisik. Untuk memahami suatu hal, biasanya anak tipe Fisikal merasa perlu mengalami sesuatu secara langsung. Karena, mereka memiliki indra perasa yang baik.

Agar anak lebih mudah memahami, orang tua bisa mencoba membuat alat peraga seperti katrol fisika atau pun pesawat sederhana. Jika perlu, bisa menggunakan alat peraga yang membutuhkan kegiatan fisik seperti katrol atau jungkat jungkit. Dengan begitu, anak bisa memahami cara benda bekerja dengan mengalami secara langsung.

Gaya belajar Logical

Logikal (Mathematical)

Sesuai dengan namanya Logikal atau Mathematical lebih tertarik dengan melihat angka daripada membaca buku yang berisi ratusan kalimat. Anak dengan tipe Mathematical mahir membaca angka dengan cepat. Pada umumnya, anak tipe ini akan lebih cepat memahami suatu bentuk pola dan melihat adanya keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya yang bahkan tidak disadari oleh orang pada umumnya.

Bermain puzzle adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk membantu anak dengan gaya belajar Mathematical. Dengan bermain teka-teki dapat meningkatkan kemampuan problem solving pada anak. Maka dari itu, orang tua bisa juga ikut serta meningkatkan kecerdasan anak dengan membantu memecahkan suatu masalah dalam permainan puzzle.

gaya belajar sosial

Sosial (Interpersonal)

Gaya belajar Interpersonal pada umumnya hampir mirip dengan Verbal yaitu mengutamakan komunikasi. Perbedaannya adalah anak yang menggunakan gaya belajar ini akan lebih suka melakukan diskusi langsung bersama lawan bicaranya atau kelompok.

Agar waktu belajar lebih menyenangkan, disarankan untuk membuat grup belajar. Berguna sebagai tempat bertukar pemikiran dan memberi tanggapan. Karena dengan adanya kelompok belajar, anak akan merasakan suasana pembelajaran yang lebih hidup.

gaya belajar solitary

Soliter (Intrapersonal)

Bertolak belakang dengan tipe Sosial, Gaya belajar Soliter lebih memilih untuk belajar sendiri dan memilih tempat dengan suasana sepi. Tanpa gangguan sekitar anak tipe Soliter bisa menemukan ketenangan dalam belajar. Pada umumnya, anak lebih senang belajar dengan cara otodidak atau mengajar diri sendiri.

Sebagai orang tua, langkah tepat yang harus diambil adalah membiarkan sang anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan catatan sang anak harus tetap dibimbing. Dengan begitu, anak tidak akan merasa kepuasan tersendiri jika sesuatu diselesaikan dengan sendirian.

Itulah beberapa gaya belajar anak yang perlu orang tua ketahui. Sebagai orang tua tidak perlu panik apabila anak mengalami kesulitan dalam belajar. Sebab anak memiliki keunikan masing-masing dan memiliki cara untuk menyerap dan memahami informasi yang berbeda-beda. Dengan mengtahui gaya belajar anak dapat membantunya meningkatkan kualitas akademik mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.