Rewind Indonesia 2025: Dari Demam Padel, Istilah ‘Stecu’, hingga Film Jumbo

Tak terasa, kalender tahun 2025 sudah berada di lembar terakhir. Rasanya baru kemarin kita menyusun resolusi awal tahun, namun kini kita sudah bersiap untuk menutup bab ini. Tahun 2025 bagi Indonesia bukan sekadar pergantian angka, melainkan sebuah periode yang sarat dengan dinamika emosional dan perubahan struktural.

Kita menyaksikan pergeseran besar dalam tatanan pemerintahan, merasakan duka kolektif atas kepergian sosok kreatif, hingga beradaptasi dengan gelombang tren gaya hidup baru yang mengubah rutinitas harian masyarakat urban. Dari layar gawai hingga lapangan olahraga, tahun ini menyuguhkan cerita yang berwarna-warni tentang bagaimana masyarakat Indonesia bergerak, berinteraksi, dan berekspresi.

Dinamika Tokoh Publik dan Pemerintahan

Salah satu sorotan terbesar tahun ini tertuju pada panggung kepemimpinan nasional dan figur publik yang mewarnai diskursus masyarakat. Nama Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sentral pembicaraan, terutama di paruh kedua tahun 2025. Sosok yang sebelumnya dikenal luas berkiprah di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mendapatkan amanat baru yang sangat strategis sebagai Menteri Keuangan pada bulan September.

Transisi kepemimpinan di sektor ekonomi ini tentu memicu perhatian luas dari pelaku pasar dan masyarakat umum, mengingat peran vital Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas fiskal negara. Publik menanti dan mengamati setiap langkah kebijakan yang diambilnya untuk menavigasi ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang tak menentu. Pembicaraan mengenai dirinya sering kali bersanding dengan diskusi mengenai stabilitas ekonomi makro yang menjadi harapan banyak orang.

Di sisi lain, figur Ahmad Sahroni terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu politisi yang paling banyak diperbincangkan di media sosial. Dikenal dengan latar belakangnya sebagai pengusaha sukses dari Tanjung Priok, Sahroni tahun ini sangat aktif menyuarakan pandangan-pandangannya terkait berbagai isu hukum dan sosial yang sedang hangat.

Selain itu, kita juga melihat konsistensi dari legenda hidup Titiek Puspa yang tetap eksis dan relevan, serta selebritas muda seperti Kenny Austin dan Alyssa Daguise yang terus mewarnai dunia hiburan tanah air.

Mengenang Jejak Kreativitas Gustiwiw

Namun, tahun 2025 tidak hanya berisi keriuhan politik dan hiburan semata. Tahun ini juga menyisakan ruang duka yang cukup mendalam bagi industri kreatif digital Indonesia. Pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Juni, publik dikejutkan oleh kabar kepergian Gusti Irwan Wibowo, atau yang lebih akrab disapa Gustiwiw. Sebagai seorang kreator konten, musisi, dan penyiar, Gustiwiw dikenal sebagai sosok yang mampu menghadirkan tawa lewat humornya yang otentik dan “apa adanya”.

Kepergiannya yang mendadak di usia muda menjadi pengingat yang menyentuh hati bagi banyak orang tentang betapa singkatnya hidup. Linimasa media sosial sempat dibanjiri ucapan bela sungkawa dan video kenangan karya-karyanya, menjadikan namanya salah satu yang paling banyak dicari sebagai bentuk penghormatan terakhir dan apresiasi atas karya yang pernah ia berikan.

Transformasi Digital dan Bahasa Pergaulan

Bergeser ke aspek teknologi yang semakin lekat dengan keseharian, tahun 2025 menjadi saksi transformasi sistem perpajakan dengan hadirnya Coretax. Sistem administrasi pajak inti yang baru dari Direktorat Jenderal Pajak ini menjadi topik hangat karena mengubah cara wajib pajak dalam melaporkan kewajibannya menjadi lebih terintegrasi.

Meskipun di awal peluncurannya banyak masyarakat yang mencari panduan tentang “apa itu Coretax” dan bagaimana cara menggunakannya. Di sektor swasta, kecerdasan buatan semakin tidak terpisahkan. Gemini AI menjadi “teman” baru bagi pelajar hingga pekerja kantoran, tidak hanya untuk mencari jawaban teks, tetapi juga tren membuat foto AI yang semakin realistis hanya dengan perintah sederhana.

Dunia media sosial, khususnya TikTok, juga melahirkan tren visual dan bahasa baru. Salah satu yang paling mendominasi adalah tren “Velocity”. Istilah ini merujuk pada gaya penyuntingan video (editing) yang memanipulasi kecepatan perpaduan antara gerakan lambat (slow motion) dan percepatan mendadak yang disinkronkan secara presisi dengan hentakan beat musik.

Video-video Velocity ini membuat konten sederhana menjadi sangat estetik dan dramatis, sehingga banyak netizen yang berlomba-lomba membuatnya. Selain itu, muncul pula istilah “Stecu” (Setelan Cuek) yang diadopsi anak muda untuk menggambarkan sikap santai menghadapi drama kehidupan, serta “Yapping” untuk teman yang gemar berbicara panjang lebar tanpa henti. Hal-hal kecil seperti cara pengucapan QRIS pun akhirnya menemukan titik terang tahun ini, di mana sosialisasi bahwa bacanya adalah “KRIS” (satu suku kata) semakin dipahami masyarakat luas.

Layar Lebar dan Alunan Musik yang Membekas

Industri hiburan Indonesia tahun ini benar-benar unjuk gigi dengan kualitas yang membanggakan. Layar bioskop dihiasi oleh keberagaman genre yang luar biasa. Film animasi “Jumbo” hadir sebagai oase bagi tontonan keluarga, mengangkat isu perundungan dengan visual yang memanjakan mata dan cerita yang menyentuh hati.

Di genre yang lebih gelap, film horor “Pabrik Gula” sukses meneror penonton dengan atmosfer mencekam yang dibangun dari kisah viral di internet. Tak ketinggalan, debut penyutradaraan Reza Rahadian lewat film “Pangku” dan film romantis “Sore: Istri dari Masa Depan” membuktikan kedalaman penceritaan sineas lokal.

Musik pun menjadi pengiring setia setiap momen di tahun 2025. Lagu “Garam Madu” (Sakit Dadaku) dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii seolah menjadi lagu wajib nasional bagi mereka yang sedang patah hati. Liriknya yang sederhana namun menohok membuat lagu ini diputar di mana-mana, dari kafe hingga transportasi umum.

Untuk suasana yang lebih bersemangat, lagu-lagu dengan irama upbeat seperti “Tabola Bale” dan “Pica-Pica” sukses mengajak pendengarnya bergoyang, menyeimbangkan nuansa galau yang dibawa oleh lagu-lagu balada lainnya.

Gelombang Gaya Hidup Sehat: Padel dan Lari

Mungkin perubahan paling fisik yang bisa kita lihat tahun ini adalah bagaimana masyarakat Indonesia semakin gila olahraga. Lapangan-lapangan olahraga tidak pernah sepi, terutama dengan hadirnya primadona baru: Padel. Olahraga yang merupakan hibrida antara tenis dan squash ini meledak popularitasnya di tahun 2025.

Orang-orang berbondong-bondong mencari tahu tentang raket Padel yang unik tanpa senar, terbuat dari komposit padat, dan berlubang serta mempelajari aturan mainnya yang memperbolehkan bola memantul ke dinding kaca. Fenomena sewa lapangan Padel yang selalu penuh booking-an menjadi pemandangan umum di kota-kota besar.

Namun, Padel tidak sendirian. Olahraga Lari masih mempertahankan tahtanya sebagai olahraga massal paling populer. Tahun ini, para pelari semakin “ilmiah” dengan hobi memantau statistik lari mereka. Istilah seperti PB (Personal Best) untuk catatan waktu terbaik, cara menghitung Pace (kecepatan lari per kilometer), hingga latihan Shuttle Run untuk kelincahan menjadi obrolan sehari-hari.

Kaum hawa pun meramaikan trek lari dengan tren outfit lari wanita yang stylish namun fungsional. Selain itu, olahraga intensitas tinggi seperti Hyrox dan ketenangan dalam Pilates juga memiliki basis penggemar yang semakin solid, menunjukkan bahwa kesadaran akan kesehatan fisik sudah menjadi prioritas utama.

Wisata Kuliner: Antara Tradisi dan Inovasi

Setelah lelah beraktivitas dan berolahraga, tren kuliner tahun 2025 hadir untuk memanjakan lidah dengan perpaduan rasa yang eklektik. Kita melihat adanya kerinduan pada cita rasa tradisional yang otentik.

Resep-resep rumahan seperti Rempeyek Kacang Tanah yang renyah dan gurih, serta masakan tumis Cabe Gendot yang pedasnya nampol, kembali dicari dan dimasak di dapur-dapur keluarga. Ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran makanan modern, rasa lokal tetap memiliki tempat istimewa.

Di sisi lain, inovasi kuliner kekinian juga tak mau kalah. Es Teler Creamy menjadi viral karena menawarkan sensasi baru menikmati minuman klasik dengan tekstur yang lebih milky dan mewah. Jajanan gurih seperti Udang Keju ala restoran dimsum juga menjadi buruan, bahkan banyak yang mencoba membuatnya sendiri di rumah.

Kejutan lain datang dari tren rasa Wasabi; sensasi pedas menyengat yang naik ke hidung ini mulai banyak diadopsi ke dalam berbagai jenis camilan, menantang lidah orang Indonesia yang biasanya akrab dengan pedas cabai.

Secara keseluruhan, tahun 2025 adalah tahun yang “ramai” dan penuh warna bagi Indonesia. Kita belajar beradaptasi dengan pemimpin baru di sektor ekonomi, merenungi kehilangan sosok inspiratif, mengadopsi teknologi pajak dan AI terbaru, hingga berkeringat bersama di lapangan Padel dan trek lari.

Semua tren ini, mulai dari istilah “Stecu” hingga lagu “Garam Madu”, membentuk sebuah mozaik cerita perjalanan bangsa di tahun ini. Apapun peran yang kamu ambil atau tren yang kamu ikuti, tahun 2025 telah memberikan pelajaran dan kenangan yang layak untuk dicatat sebelum kita melangkah optimis menuju tahun 2026.

Leave a reply

Follow
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...