Hustler You need three things to create a successful startup: to start with good people, to make something customers actually want, and to spend as little money as possible. Go Ahead!

Sosiologi Ekonomi

1 min read

Sosiologi Ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat mencapai kesejahteraan. Sosiologi Ekonomi menunjukkan perkembangan yang eksplosif sejalan dengan berbagai permasalah sosial ekonomi masyarakat, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang yang sedang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan. Perkembangan studi Sosiologi Ekonomi tidak terlepas dari pengaruh pemikiran tokoh sosiologi klasik dan aliran pemikiran baru dalam sosiologi ekonomi sejak dekade 1980-an.

Sosiologi ekonomi mengalami disparitas

Sosiologi dan ekonomi mengalami disparitas field of study sejak ekonom klasik dan neoklasik mengembangkan teori-teori ekonomi tanpa institutional framework. Menurut Schumpeter, kesenjangan antara ekonomi dan sosiologi sudah dimulai sejak Adam Smith menulis ‘The Wealth of Nations’ yang hingga kini menjadi rujukan teori-teori ekonomi modern. Adalah Karl Marx yang menurutnya, menjadi ekonom paling berhasil menganalisis ekonomi secara sosiologis. Keberhasilan Marx terletak pada analisisnya tentang konflik struktur antar kelas. Torsten Veblen juga mengkritik ekonomi neoklasik yang bersifat utilitarian, mengasumsikan aktor ekonomi secara individualistik dan transaksional. Asumsi seperti itu, menurutnya, membuat ekonom neoklasik cenderung menjauhkan analisisnya dari realitas historis-empirisis menuju transaksi rasional yang individualistik. Padahal dalam tindakan transaksional, selau melibatkan dua individu atau lebih. Granovetter mengkritik cara pandang neoklasik sebagai berikut:

[blockquote footer=”Granovetter”]This view sees the economy as an increasingly separate, differentiated sphere in modern society, with economic transaction defined no longer by the social or kinship obligation of those transacting but by rational calculations of individual gain.[/blockquote]

Tradisi sosiologi sendiri, dalam perkembangan studi sosiologi ekonomi mengalami pasang surut. Kontribusi awal paling signifikan mungkin dilakukan oleh Max Weber dalam ‘The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism’. Meskipun masih menuai perdebatan apakah The Protestan Ethic ‘menyebabkan’ kapitalisme, karya Weber dianggap sebagai salah satu sejarah studi sosiologi ekonomi yang mendapat banyak perhatian oleh para sosiolog. Kontribusi teori kontemporer dalam sosiologi ekonomi adalah analisis ekonomi dengan pendekatan social embeddedness. Meskipun Weber tidak pernah menyebutkan social embeddednes dalam teori sosiologi ekonomi-nya, beberapa sosiolog menyebut teori Weber sebagai ‘The Hidden Theory of Embeddedness’.
Perkembangan sosiologi ekonomi tentang social embeddedness dilakukan oleh Karl Polanyi pada 1950. Namun, Polanyi lebih banyak mengkaji aspek political economy dari embeddedness ketimbang social embeddedness itu sendiri. Para pemikir strukturalis di Amerika juga mengembangkan sosiologi ekonomi yang mendekatkan antara Economy dan Society. Adalah Talcott Parson yang memberi banyak pengaruh pada sosiolog ekonomi sampai periode 1960-an. Tetapi, analisis pengikutnya yang terlalu bersifat institusionalis tidak diterima oleh para ekonom neoklasik pada waktu itu. Analisis itu juga dianggap oleh Granovetter sebagai cara pandang ‘oversocialized’ terhadap fenomena ekonomi.
Hustler You need three things to create a successful startup: to start with good people, to make something customers actually want, and to spend as little money as possible. Go Ahead!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan artikel menarik dari kami, langganan sekarang!